diyan zahro

the dylogi's labyrinth

Topeng Gereja di Wajah Ajit

Ini memang bukan kali pertama saya menjelajahi Taman Budaya Yogyakarta. Terlebih lagi sejak event Biennale Jogja XI berlangsung. Ada beragama instalasi yang buat saya, tidak cukup 1-2 jam untuk mengamatinya. Buat saya mengurai filosofi di balik visualisasi yang disuguhkan adalah keasyikan tersendiri. Apalagi orang yang awam dunia seni rupa macam saya misalnya. Toh, akhirnya saya pasrah. Saya membiarkan karya-karya para seniman itu menuntun saya menjelajahi puzzle ide mereka, satu demi satu. Namun, saya masih saja terpaku mengamati topeng-topeng kertas dari Arya Panjalu dan Sara Nuytemans lebih lama. Mengkhidmati video yang menggambarkan proses kreatif mereka. Barangkali ini memang karena saya ikut menjadi bagian dalam Birdprayers SD Muhamadiyah Kadisoro, Bantul.

***

Rajif Waluyo mengayuh sepeda onthelnya di jalanan desa dengan terburu-buru. Hampir saja ia lupa kalau siang ini ia harus kembali ke sekolah. Sebelum pulang tadi, Bu Anisah  memintanya dan kawan-kawan untuk mengikuti workshop. Bocah asli Bantul ini belum tahu apa arti workshop, tetapi gurunya itu bilang bahwa nanti ada kakak-kakak dari Jogja yang datang.

Akhirnya bocah sebelas tahun ini sampai di SD Muhammadiyah Kadisoro I. Dipandanginya sesaat sekolahnya itu, gedung bercat hijau muda yang sudah mengakrabinya selama 6 tahun ini.  Lalu ia memarkir onthel hitamnya yang mulai berkarat di selasar kelas. “Ajit! Ayo gek mlebu kelas,” ia dengar teriakan Bangun, teman sekelasnya. Ajit, begitulah sehari-hari ia biasa disapa kawannya. Sambil berlari kecil, ia segera menyongsong Bangun. Kawan-kawan yang lain sudah ramai berkumpul. Tidak hanya kelas VI, tetapi juga adik-adik dari kelas IV dan V.

Tak lama kemudian, Pak Sarjiyo, kepala sekolahnya membuka pintu kelas II. Ternyata sekat antara kelas II dan kelas III sudah dibuka, ruangan menyatu dan menjadi lebih luas. Anak-anak langsung menghambur ke dalam ruangan dan memilih kursi masing-masing tanpa basa-basi. Ajit melirik jam dinding, pukul 13.50 WIB. Diluar dilihatnya beberapa orang datang, diantaranya ada seorang perempuan yang berhidung mancundan berambut cokelat. “Wah, ono londho cah…,”ujar Nur yang duduk disampingnya. Bocah kelas 6 ini semakin penasaran, apa yang akan mereka lakukan hari ini.

Perlahan seorang lelaki masuk ke ruangan kelas. Rambutnya ikal agak gondrong, bercelana jeans dan jaketnya merah. Namanya Kak Arya Pandjalu. Ia juga memperkenalkan mbak londho, Sara Nuytemans. Mereka tergabung dalam Biennale Jogja XI dan membuat proyek di sekolah Ajit. Mereka akan mengajari para siswa membuat topeng dan menulis surat untuk Tuhan. Hah? Tuhan? Ajit mulai bingung. Anak laki-laki ini bertanya pada Bangun, tetapi kawannya yang beralis tebal itu juga tidak mengerti.

 “4 hari ini kita akan bikin workshop, namanya Birdprayers,” katanya. Lalu Kak Arya memperkenalkan Ustadz Hardiman El-Shirazy atau Kak Batman. Sontak seisi ruangan tertawa mendengar namanya.

“Hayo, siapa yang berani maju ke depan?” tantang Kak Batman. Ajit pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan segera berlari ke depan kelas. Kawan-kawannya riuh melihatnya berdiri disamping Kak Batman. Lalu ustadz yang berbaju batik itu menanyai Ajit tentang kitab dan tempat ibadah penganut agama Kristen. “Injil dan gereja,” jawabnya mantap.  Meskipun anak kecil berbaju cokelat itu belum pernah mempunyai teman atau tetangga yang beragama Kristen, ia tahu hal itu karena sering membaca atlas yang dimilikinya di rumah. Hasilnya Ajit mendapat tepuk tangan dan tentu saja hadiah dari Kak Batman.Kak Batman mengajak anak-anak itu menyanyi dan menari. Ada saja ulahnya yang membuat decak tawa mereka menggema. “Kita harus menghormati agama lain, supaya hidup kita harmonis seperti pelangi yang indah karena bermacam warna,” jelas Kak Batman. Ajit mengangguk-angguk. Ia dan teman-teman antusias mengikuti materi yang disampaikan, karena Kak Batman juga membagikan hadiah kepada anak yang berani menjawab kuis.

Keesokan harinya para siswa SD Muhammadiyah Kadisoro I ini dibagi menjadi lima kelompok. Sayangnya Ajit, Bangun dan Nur tidak mendapat kelompok yang sama. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat  karena ada kertas dan banyak spidol warna-warni yang dibagikan. “Oke, sekarang coba tuliskan keinginan, harapan, atau doamu tentang perbedaan agama yang kamu rasakan,” pinta Kak Arya.

 Sejenak Ajit berpikir apa yang akan dibuatnya, ia melihat temannya di sebelah mulai membuat garis dan lingkaran. Tanpa berlama-lama lagi diambilnya spidol biru dan menggambar masjid megah dengan banyak pepohonan. Ia tulis namanya besar-besar di sudut atas kertas. “Ya Allah, berikanlah rahmat dan barokah kami, amin.” Hanya itu doa sederhana yang ia tuliskan pada kertasnya.

Lalu para siswa menggunting kertas-kertas warna-warni yang akan dijadikan topeng. Mereka menulis dan menggambari kertasnya sendiri. Kak Arya bilang, ini bentuk bangunan ibadah 4 agama terbesar di dunia, yaitu Islam, Kristen, Yahudi dan Hindu. Sesekali Ajit menengok Bangun dan Nur. Mereka juga sibuk menggunting kertas masing-masing. Kadang ia mendekati Kak Sara. Meski tak mengerti yang mbak londho itu katakan, tetapi Ajit senang karena Sara selalu ramah dan tersenyum padanya.


Di hari ketiga, Ajit dan kawan-kawannya memasang karet pada topeng kertas warna-warni itu. Ia ingat dulu waktu TK, ia juga sering bermain gunting dan kertas. Kemudian bocah yang hobi bermain sepakbola ini  mencoba memakai topengnya dan tertawa sendiri. Mata dan hidungnya seperti menyembul dari pintu bangunan. Ajit menatap sekeliling. Ia lihat temannya yang lain juga ramai melihat rupa satu sama lain. Topeng mereka serupa tapi tak ada yang persis sama.  Betapa aneh, tetapi ia  menyukai perbedaan dan persamaan itu.



Macam dan ragamnya membuat dunia lebih indah, seperti yang Kak Batman katakan. Pelangi itu indah karena tersusun dari beragam warna yang harmonis. Perlahan bocah yang mengidolakan Irfan Bachdim ini mulai mengerti. Topeng-topeng ini mengajarkannya tentang keberagaman, terutama agama. Ia belajar memahami bagaimana ia menerima perbedaan serta saling rukun dan saling menghormati satu sama lain.

Workshop Birdprayers

Ini adalah sedikit catatan saya tentang satu kegiatan yang pernah saya ikuti dari rangakaian BIennale Jogja XI. Walaupun pada awalnya malu-malu, Ajit cukup terbuka bercerita pada saya tentang apa yang dirasakannya selama Birdprayers berlangsung.  ”Seneng, Mbak, pengen nggawe meneh,” ujarnya.

Birdprayers sendiri adalah proyek yang digagas Arya Pandjalu dan Sara Nuytemans. Mereka sangat ramah menjawab beragam pertanyaan dari saya.  Menurut mereka berdua, ini adalah respon terhadap isu-isu tentang konflik agama. “Kita mengkritisi bahwa ternyata di lapangan selalu isu-isu keagaman adalah isu yang sangat sensitif yang gampang memecah belah kebersamaan,” ungkap Arya. Walaupun sebelumnya sudah pernah ditampilkan di Ubud, Yogyakarta, Istambul, Den Haag, dan Roma, namun seniman asal Bandung ini mengakui proyek Birdprayers di Kadisoro ini sangat menyenangkan. “Bagi kami, workshop ini sangat menarik dan merupakan tantangan, terutama bagaimana kami dapat melakukan pendekatan kepada anak-anak,” terangnya sambil tersenyum.

Hal senada juga diungkapkan Sara Nuytemans dalam perbincangan kami di sela kegiatan. Ia berharap dengan workshop ini, semakin awal anak-anak mengerti adanya keberagaman kepercayaan tentang Tuhan, maka lebih mudah bagi anak-anak ini untuk bertoleransi terhadap satu sama lain.  Lebih lanjut, Sara menambahkan, “Kami tidak membayangkan Birdprayer dapat mengubah dunia, hanya saja kami melakukan yang terbaik untuk bisa mengkomunikasikan issu ini.”

Sementara itu, Sarjiyo, S.Pd., Kepala SD Muhammadiyah Kadisoro I, juga menyambut Birdprayers dengan sangat baik, “Ini adalah hal yang baru bagi kami.” Masih dari Sarjiyo, “Selain menambah wawasan anak-anak tentang kerukunan beragama, mereka juga mendapatkan keterampilan baru dalam hal kesenian.”

Workshop yang berlangsung pada 14-17 November ini melibatkan sekitar 55 orang siswa SD Muhammadiyah Kadisoro I. Sara Nuytemans, Arya Pandjalu, para siswa dan guru serta didampingi beberapa volunteer Biennale Jogja melakukan pawai bersama menuju Lapangan Wijirejo Bantul. Disana para siswa mengenakan topeng hasil karya mereka selama workshop. Foto-foto dan video proyek Birdprayers ini dapat disaksikan dalam pameran Biennale Jogja XI.

13 Comments »

Biennale Jogja XI : Exploring the Equator #1

Biennale Jogja adalah sebuah event seni rupa akbar yang diadakan dua tahun sekali di Jogja. Saya beruntung karena tahun ini masih bisa menyaksikan, bahkan ikut serta di dalamnya. Terus terang, saya begitu antusias sejak 8 Oktober lalu saya mendapat pemberitahuan resmi sebagai volunteer. Awalnya saya tergabung dalam divisi pameran, tetapi terjadi penyesuaian dan sekarang saya masuk di bagian Marketing-PR. Menyenangkan, karena saya bisa mendapatkan akses untuk mengikuti sebagian besar kegiatan.

Nah, salah satunya saya bisa mengikuti press conference di Dixie pada tanggal 23 November lalu. Mulai dari sini saya jadi semakin mengerti keistimewaan Biennale kali ini. Menginjak usianya yang ke-11, tema yang diusung Biennale kali ini adalah Shadow Lines : India meets Indonesia. Istimewa, bukan? Menurut Nindityo Adi Purnomo, Dewan Pembina Yayasan Biennale Yogyakarta, India dipilih karena negara ini berada di garis ekuator yang menjadi panduan untuk 5 Biennale Jogja selanjutnya.  Mengutip pernyataan sang kurator, Alia Swastika, garis ekuator ini adalah suatu tawaran internasionalisasi baru bagi dunia seni rupa. Buat saya, ini ide cemerlang karena kekayaan seni di garis khatulistiwa ini begitu beragam. Sudah saatnya, Indonesia sendiri mengeksplorasi lebih jauh apa yang dimiliki, tidak hanya sekedar menjadi penyandang gelar “Zamrud Khatulistiwa”.

Ada 25 seniman Indonesia dan 15 seniman India yang berpartisipasi. Tentunya, karya mereka pun begitu beragam. Yang paling banyak diekspose salah satunya adalah “Reality Bites” milik Shakshi Gupta. Rangkaian kelambu dari berkilo-kilo cabe ini benar-benar ‘hot’. Jelas, hal ini  tidak terbantahkan oleh rekan-rekan saya yang ikut meronce cabe selama lebih dari 9 hari. Tidak hanya itu saja, dua venue, TBY dan JNM penuh  lukisan, tetapi juga foto, video dan instalasi   fantastis yang ditata apik. Kedalaman cara mencipta masing-masing seniman dalam menerjemahkan tema : Religiositas, Spiritualitas dan Keberagaman.

Selain pameran, ada juga yang namanya Festival Equator. Rangkaian acaranya seru lho, misalnya Family Day dan Kehangatan Lorong Sarkem. Hmmm, dari judul kegiatannya saja sudah bikin penasaran ‘kan? Yuk, ikut!

4 Comments »

19 21 Alles Gute zum Geburtstag

Sejauh ini adalah dokumentasi ulang tahun saya, hohohoho…love you all. Maturnuwun ya semuanya…

Gambar khusus dari mas Bima, kilat 5menit jadi. Hahahaha…

Sebagian dari Facebook

No Comments »

Special from INcheap

Special from INcheap

Hadiah ulang tahun dari temen-temen…senengnya!

No Comments »

My Jolly Sailor Bold – Gemma Ward’s Haunting Voice

Saya bisa menonton segala genre film. Yah, gak terlalu rewel lah, mau dari yang termehek-mehek sampai yang absurd sama sekali. Mesipun demikian yang paling tidak bisa saya tolak itu film-film yang kolosal, bersetting kuno dan diawali kesan “pada jaman dahulu kala”. Semacam “Prince of Persia”, “The Scorpion King”, dan tentu saja “Pirates of Carribean”. Buat saya Jack Sparrow itu campuran dari Wiro Sableng, Dedy Corbuzier, sama Ahmad Dani <— oke, kalau ada yang mau protes saya terima.

Tapi ya sudahlah, Johny Depp hampir mendekati sempurna dan akan ada lebih banyak kutukan tercipta jika dia sampai tergeser dari peran Jack Sparrow. Demikianlah dia memaku mata saya di jenggotnya, sehingga saya selalu menanti di scene mana lagi si Jack akan muncul -walaupun jelas dia sering nongol karena dia tokoh utamanya-.

Semenjak Pirates of The Carribeab 1, 2, 3, dan akhirnya 4 ini datang, titik fokus saya tidak lagi menuju Kapten Black Pearl ini. Para putri duyung yang hadir di “On Stranger Tides” ini sukses bikin saya terpedaya. Ouhhhhh, cantiknyaaaa…Apalagi adegan si ikan jadi-jadian ini mulai mendekat ke kapal dan menyanyikan lagu buaian. Benar-benar berbahaya.

Bayangkan : cantik, menggoda, dan basah. Seger banget ya, udah gitu si mbak cantik bersirip ini juga bisa nyanyi. Lagu yang bikin terlena, sekaligus merinding di saat yang sama. Judulnya “My Jolly Sailor Bold”.

My Jolly Sailor Bold lyrics

My heart is pierced by Cupid, I disdain all glittering gold,
There is nothing that can console me but my jolly sailor bold.Come all you pretty fair maids, whoever you may be
Who love a jolly sailor bold that ploughs the raging sea.

My heart is pierced by Cupid, I disdain all glittering gold,
There is nothing that can console me but my jolly sailor bold.

My heart is pierced by Cupid, I disdain all glittering gold,
There is nothing that can console me but my jolly sailor bold

—————————————————————————————————————–

 

Saya jadi merinding denger lagu ini sendirian di pagi buta, tapi tetep si putri duyung yang rada mirip sama Amanda Seyfried ini terlalu mempesona.
Ternyata -di dunia nyata- nama aslinya adalah Gemma Louise Ward.
Dia lahir di Australia dan mulai akrab dengan dunia modelling sejak umur 14 tahun.
Selain model, dia juga aktris yang pernah main di “The Stranger” bareng Liv Tyler.
Dalam Pirates of The Carribean 4 : On Stranger Tides ini, Mbak Gemma bermain sebagai Tamara.
Putri Duyung versi Tamara ini jauh berbeda dengan sosok Ariel yang kita kenal.
Tamara adalah wujud dari kisah lisan turun temurun para bajak laut. Putri Duyung adalah makhluk indah yang ganas.  Tamara memimpin para mermaid lainnya untuk membunuh para pelaut. Ia muncul dengan anggun, membuai para pelaut dengan senandung merdu serta mata biru yang menggoda.
Ketika pelaut itu terlena, perlahan ia tarik masuk ke dalam air dan dengan sigap pelaut itu ditenggelamkannya de dasar samudera. Voila, santapan lezat telah tersedia. Bukan saatnya lagi untuk menyembunyikan gigi mereka yang super tajam.
Oke, bagaimanapun saya tidak bisa menampik duyung ini telah menyihir saya untuk terus menikmati nyanyiannya yang sungguh merdu, dan indah menyayat.
source :
en.wikipedia.org/wiki/Gemma_Ward
3 Comments »